AI (Artificial Intelligence) atau
kecerdasan buatan merupakan istilah favorit di kalangan startup Asia Tenggara. Mereka
dengan tugas sebagai public relation mengenakan istilah AI sebagai untuk semua
cakupan teknologi seperti machine learning, pemrosesan bahasa, serta pengenalan
gambar. Namun demikian, hal tersebut adalah pusat dari sebuah revolusi yang
terjadi di kawasan Asia Tenggara dan dunia, dan AI sangat membantu
bisnis-bisnis untuk menjadi lebih efisien, menghasilkan pemasukan uang dari
sumber baru, serta meningkatkan terhadap banyak akses seperti transportasi,
kesehatan, dan sumber edukasi.
Beruntungnya, Indonesia memiliki
segalanya yang dibutuhkan untuk menjadi sebuah wadah uji coba yang sempurna
bagi pelaku startup yang berniat untuk menjajal bidang revolusioner ini.
Utamakan Data
Elemen mendasar di segala tingkatan
teknologi adalah data. Tanpa kumpulan banyak data yang dapat dianalisa dan
dipahami, bagian "pembelajaran" di machine learning tidak akan
terwujud.
Menurut Sachin Chitturu, digital core
leader untuk Asia Tenggara di perusahaan McKinsey & Company, data lah yang
menjadi kelemahan para pelaku startup di Asia Tenggara. Mereka kerap menemui
rintangan terbesar di bagian data.
Sitturu mengatakan, "data merupakan
celah terbesar bagi startup," sebutnya tahun lalu di Tech in Asia Jakarta
2017. "Pilihan untuk mereka adalah mengumpulkan data tersebut secara
individual, yang sudah pasti akan memakan waktu, atau berkolaborasi dengan
perusahaan-perusahaan besar."
Hanya sebagian kecil dari perusahaan di
Asia Tenggara yang memiliki dasar mengenai pelanggan dalam skala besar yang
dapat diujicobakan kepada algoritma AI. Menurut Chitturu, biasanya hal serupa
dimiliki oleh dua golongan: telcos dan bisnis yang bergerak cepat (FCMG).
Bekerjasama dengan perusahaan
bergolongan tersebut merupakan awal yang baik bagi startup berbasis AI,
tambahnya.
Hal tersebut merupakan sebuah hal yang
menguntungkan segala pihak atau virtuous circle. Jika startup memiliki
teknologi yang dapat memudahkan cara kerja perusahaan dengan meningkatkan
efisiensi atau membuat aliran pendapatan baru, maka mereka akan menjadi partner
yang menjanjikan. Sebagai partner, startup dapat mendapat keuntungan dengan
mendapatkan akses ke pusat konsumer dan banyak data berharga yang dikelolanya.
Sebagai timbal balik, hal tersebut juga mengasah dan meningkatkan kemampuan AI
milik startup, membuatnya menjadi partner yang lebih menjanjikan terhadap
perusahaan-perusahaan yang berurusan langsung dengan pelanggan.
Virtuous Circle
Sebuah kolaborasi serupa terjadi
diantara Kata.ai sebuah developer chatbot asal Indonesia dan Telkomsel, anak
perusahaan Telkom, perusahaan telco terbesar di Indonesia.
"Kami dapat melihat jumlah data
yang mereka kumpulkan.. dan bisnis mereka bertumbuh dalam dua digit setiap
tahunnya," ucap co-founder serta CEO Kata.ai Irzan Raditya.
Co-founder dan CEO Kata.ai Irzan Raditya
berbicara di panggung Tech in Asia Jakarta 2017 | Foto: Tech in Asia.
Dengan jumlah pelanggan yang begitu
banyak seperti ini muncul lah kebutuhan interaksi dengan mereka lebih besar,
bertambah pula beban kerja admin - dan yang tidak dapat dihindarkan, keluhan
yang juga lebih banyak. AI chatbot milik Kata.ai dapat menangani beban kerja
tersebut untuk Telkomsel, membuat pegawai operator jaringan dapat lebih
berfokus pada urusan yang membutuhkan kemampuan manusia.
Indonesia Menjuarai
Cara lain memanfaatkan dataset yang
lebih besar adalah dengan meluncurkan teknologi AI di pasar besar. Dan
Indonesia sangat cocok terhadap kebutuhan tersebut di Asia Tenggara, terhitung
sekitar separuh total populasi di Asia Tenggara dan dengan variasi demografik
secara luas.
"Nilai meningkat seiring dengan
meningkatnya skala," ucap Chitturu. "Jika dibandingkan berusaha di
Singapura dengan lima juta jiwa, dengan Indonesia dengan 260 juta jiwa - skala
ekonomi, biaya peningkatan sangatlah lebih baik."
Namun, masih ada beberapa rintangan
signifikan untuk dapat diatasi sebelum Indonesia dapat memulai mengkapitalisasi
potensi tersebut.
Tantangan terbesar adalah, akses
terhadap talent, sebut Chitturu, meski ia menambahkan meskipun ini juga
merupakan permasalahan global. "Bahkan perusahaan id Amerika pun juga
mengalaminya. Karena terbatasnya jumlah ilmuwan data, dan sekalipun ada untuk
menggaji mereka tidaklah murah."
Tech in Asia
Sansan - sebuah startup asal Jepang yang
menggunakan fitur AI untuk mendigitalisasi kartu bisnis dan membuat sebuah
jaringan sosial dari data - mempekerjakan 10 hingga 15 ilmuwan data tergantung
bagaimana anda menyebutnya, sebut COO Rio "PopEye" Inaba. Ia
menyarankan para pelaku startup untuk melakukan usaha lebih dalam memahami para
ilmuwan data tersebut menyangkut hal yang mereka cari dalam pekerjaan jika ingin
menggaet ahli AI dengan mudah.
source:


Tidak ada komentar