"Kami percaya diri punya lebih dari lima 'Unicorn", ucap Rudiantara dalam acara Digital Economic Briefing yang diadakan oleh Tempo-Indosat Ooredoo, Kamis (16/11) kemarin sebagaimana dikutip dari Antara.
Rudiantara, Menteri
Komunikasi dan Informatika itu, ingin melihat Indonesia memiliki lima startup
"Unicorn" hingga 2019. Ini merupakan salah satu rangkaian dari target
seribu startup yang ingin diciptakan pemerintah pada 2020 mendatang. Suatu
target, yang jika pun melihat penetrasi internet Indonesia, sesungguhnya
terlalu ambisius.
Beberapa saat sebelum
diskusi ekonomi digital dilakukan, Indonesia diketahui telah memiliki tiga
startup bergelar "Unicorn". Unicorn merupakan gelar yang diberikan
pada suatu startup yang memiliki nilai valuasi (nilai dari suatu startup, bukan
sekedar pendanaan yang diraih dari investor) lebih dari $1 miliar. Ketiga
startup itu ialah Go-Jek, Tokopedia, dan Traveloka.
Pada acara tersebut, Chief
Executive Officer Bukalapak, Achmad Zaky, memberi kejutan. Achmad mengklaim
bahwa perusahaan yang didirikannya telah sukses meraih gelar
"Unicorn" menyusul tiga startup Indonesia lain. Ia mengungkapkan
bahwa Bukalapak telah menerima pendanaan, dengan total valuasi lebih dari $1
miliar. Sayangnya, kabar gembira itu tak dibeberkan lebih jauh oleh Achmad.
Ketika dimintai
konfirmasi, Evi Andarini, Public Relation Manager Bukalapak, pun enggan
membeberkan lebih jauh soal gelar "Unicorn" bagi Bukalapak itu. Evi,
hanya menjawab diplomatis atas kabar baik bagi perusahaannya itu.
“Terkait hal tersebut kami
belum bisa berkomentar dan disclose banyak. Nanti tunggu release selanjutnya
aja,” ucap Evi pada Tirto.
Bukalapak dan Unicorn lain
Masuknya Bukalapak dalam
jajaran "Unicorn" bisa dibilang terlambat jika dibandingkan dengan
tiga startup asal Indonesia lainnya. Tokopedia yang dibidani oleh William
Tanuwijaya lahir tahun 2009. Setahun kemudian, Gojek didirikan oleh Nadiem
Makariem. Pada tahun yang sama, Bukalapak lahir. Sementara Traveloka baru
didirikan oleh Ferry Unardi dan dua temannya pada 2012.
Gojek merupakan startup
pertama asal Indonesia yang mendapat gelar "Unicorn". Gojek,
memantapkan diri sebagai "Unicorn" tepat pada 4 Agustus 2016 lalu
selepas menerima pendanaan senilai $550 juta dari konsorsium 8 investor yang
digawangi oleh Sequoia Capital dan Warbrug. Jika menilik tanggal kelahirannya,
Gojek menyandang status "Unicorn" setelah sekitar 6 tahun berdiri.
Tak berhenti di situ, pada
4 Mei 2017 Gojek kemudian memperoleh suntikan dana tambahan senilai $1,2 miliar
dari Tencent Holding dan JD.com. Ini membuat total pendanaan yang sukses diraih
Gojek berada di angka $1,75 miliar, yang merupakan nilai tertinggi di antara
empat "Unicorn" Indonesia.
Startup kedua asal
Indonesia yang menjadi "Unicorn" ialah Tokopedia. Data yang
dijabarkan dari Crunchbase mengungkapkan bahwa layanan online market
placetersebut, kini secara keseluruhan telah memperoleh pendanaan senilai
$1,347 miliar. Dari angka itu, investasi terbesar dicacatkan pada 17 Agustus
2017 lalu ketika Tokopedia memperoleh dana senilai $1,1 miliar dari Alibaba.
Menilik tanggal kelahirannya, Tokopedia serupa dengan Gojek, menjadi
"Unicorn" selepas 6 tahun berdiri.
Startup Indonesia ketiga
yang menjadi "Unicorn" ialah Traveloka. Layanan penjualan tiket
online itu, menyandang gelar "Unicorn" selepas Expedia, layanan
sejenis yang populer di luar negeri, mengucurkan dana senilai $350 juta pada 27
Juli 2017 lalu. Ini membuat Traveloka total telah memperoleh pendanaan sebesar
$500 juta. Meskipun menjadi yang ke-3, menilik tanggal peluncuran, Traveloka
dapat didaulat sebagai yang tercepat menjadi "Unicorn". Gelar
"Unicorn" diperolehnya selepas sekitar 5 tahun berdiri.
Berbeda dengan startup
Indonesia, Grab, startup ride-sharing asal Singapura, menyandang gelar
"Unicorn" terhitung cepat. Grab didirikan oleh Anthony Tan pada tahun
2012 lalu. Kemudian, ia memperoleh pendanaan senilai $250 juta, alias seri D,
pada Desember 2014 dari SoftBank. Di tahun itulah Grab mendaulatkan diri
sebagai "Unicorn" asal Singapura. Perolehan itu Grab dapatkan selepas
sebelumnya sudah mengumpulkan dana senilai $350 juta hanya dalam waktu 14 bulan
semenjak kelahirannya.
Masuknya Bukalapak menjadi
bagian dari startup "Unicorn" nomor 4 di Indonesia, meskipun patut
diapresiasi, tidaklah mengejutkan. Terutama terkait dengan aliran dana yang
masuk ke dunia startup Indonesia yang memang mengalami peningkatan. Data yang
dipaparkan CBS Insights memaparkan bahwa terjadi kenaikan investasi yang cukup
tinggi bagi dunia startup di kawasan Asia Tenggara, termasuk, tentu saja,
Indonesia.
Pada 2015, investasi
startup di Asia Tenggara berada di angka $1,719 miliar. Pada 2016 nilainya meningkat
menjadi $3,09 miliar. Belum genap 2017 berakhir, nilai investasi di Asia
Tenggara di para startup telah berada di angka $6,4 miliar. Dari angka yang
besar itu, uang senilai $2,948 miliar masuk ke startup di Indonesia pada tahun
2017.
Melihat data tersebut,
investasi yang masuk pada startup Indonesia masih kalah dibandingkan pada
startup Singapura. Tercatat, negeri di penghujung semenanjung Asia itu
memperoleh kucuran dana senilai $3,037 miliar. Unggul tipis jika dibandingkan
Indonesia.
Menariknya, besaran dana
yang digondol startup Indonesia dan Singapura dari investor dunia, unggul
sangat jauh dibandingkan negara Asia Tenggara lain, misalnya Malaysia. Para
startup di negeri jiran itu hanya memperoleh kucuran dana senilai $352 juta di
tahun 2017 ini.
Indonesia dan juga
Singapura memang primadona di kawasan ini. Tercatat, di dua negara inilah
startup unicorn asal Asia Tenggara silih berganti lahir ke dunia. Grab, SEA,
Go-Jek, Tokopedia, Traveloka, serta yang terbaru, Bukalapak sukses menjadi
unicorn. Serta, tak bisa dilupakan, startup multinasional yang menjadikan
Singapura sebagai rumah seperti Lazada menandakan pentingnya dua negara ini
mengarungi dunia startup teknologi dunia.
source: https://tirto.id/melihat-perjalanan-4-startup-unicorn-asal-indonesia-cAdQ
source: https://tirto.id/melihat-perjalanan-4-startup-unicorn-asal-indonesia-cAdQ



Tidak ada komentar