Adopsi kecerdasan buatan (Artificial
Intelligence/ AI) di Indonesia disebutkan mengungguli negara Asia Tenggara
lainnya. Indonesia lebih unggul dibandingkan Thailand, Malaysia bahkan
Singapura.
Sebab, jumlah perusahaan yang menerapkan
AI di Indonesia jauh lebih banyak dari negara lain di Asia Tenggara.
Berdasarkan survei dari perusahaan bidang analitik SAS dan International Data
Corportation (IDC) menunjukkan 24,6 persen perusahaan di Indonesia telah mengadopsi
AI. Sementara perusahaan di Thailand menempati posisi dua dengan 17,1 persen,
disusul Singapura (9,9 persen), dan Malaysia (8,1 persen).
Meski punya angka adopsi yang paling
tinggi, tapi persentase perusahaan di Indonesia yang tidak berencana mengadopsi
AI dalam lima tahun ke depan juga paling tinggi di Asia Tenggara.
Sebab, 59 persen perusahaan di Indonesia
tidak berencana untuk menerapkan AI dalam lima tahun ke depan. Angka
ketidaktahuan ini juga jadi yang paling tinggi di antara negara lain di Asia
Tenggara tanpa memberikan bukti berupa detil angka rencana penerapan AI di tiga
negara lain yang disurvey dalam lima tahun ke depan.
Kesenjangan persentase tingginya
pengadopsian dan ketiadaan rencana AI di Indonesia ini menurut Country Manager
SAS Indonesia Peter Sugiapranata menunjukkan adanya hambatan evolusi dari
bisnis tradisional di Indonesia menjadi bisnis digital.
Di satu sisi Peter mengatakan penerapan
AI semakin tinggi karena pertumbuhan cepat perusahaan digital berbasis internet
di Indonesia. Kendati demikian di satu sisi, penerapan AI ini juga terhambat
dengan banyaknya perusahaan tradisional masih nyaman dan tidak berencana untuk
menggunakan teknologi digital.
Padahal menurut Peter, penerapan AI bisa
mempercepat berbagai proses dalam bisnis. Menurut Peter, AI akan menjadi
pendorong bagi perekonomian di Indonesia.
Peter agar AI lebih banyak diadopsi di
Indonesia, maka diperlukan kesadaran perlunya penerapan AI di Indonesia.
Sehingga, adopsi layanan ini bisa mulai direncanakan. Hal ini dilanjutkan
dengan keterbukaan data sehingga semua pegawai bisa mendapat wawasan (insight)
dan mereka jadi lebih melek tentang AI.
"Akses ke sumber daya (data) saat
ini menjadi hambatan. Tapi saat ini ada pilihan untuk membuat wawasan data itu
bisa diakses oleh siapapun dari berbagai tingkatan di perusahaan. Tidak hanya
oleh peneliti dan pakar data," ujar Peter.
Source:


Terima kasih telah menjelaskan layanan Anda dengan sangat baik di blog ini.
BalasHapusperangkat lunak chatbot ai untuk bisnis